Cerita Sex Akhir dan Awal Yang Lain

Cerita Sex Akhir dan Awal Yang Lainby on.Cerita Sex Akhir dan Awal Yang LainEnam – Part 27 BAB V. Akhir dan Awal Yang Lain. Bagian 4 Revi duduk termenung di pojok kamarnya, yang ada dibenaknya sudah pasti, Rian. Apakah salah jika dia ingin bahagia bersama orang yang dia sayangi? Apakah egois baginya jika saat ini dia mengharapkan Atika itu tidak ada, atau jika disana, sekarang, Rian sedang memutuskan […]

Enam – Part 27

BAB V. Akhir dan Awal Yang Lain.
Bagian 4

Revi duduk termenung di pojok kamarnya, yang ada dibenaknya sudah pasti, Rian. Apakah salah jika dia ingin bahagia bersama orang yang dia sayangi?
Apakah egois baginya jika saat ini dia mengharapkan Atika itu tidak ada, atau jika disana, sekarang, Rian sedang memutuskan Atika?Mantannya yang dulu menghianatinya, Gio yang sempat ada dan Rian, yang kini baru disadari, adalah orang yang selalu ada untuknya, orang yang selama ini mengisi hati kecilnya dengan kebahagiaan. Kenapa harus terlambat? Waktu? Bukan salah waktu, Revi merasa bodoh, tidak melihat apa yang jelas ada di depan mata, di butakan oleh perasaan yang orang sebut cinta. Sehingga sosok Rian yang jelas-jelas menyayanginya dengan tulus tak terlihat. Dulu hanya Bima yang menarik perhatiannya, karena Rian seakan hanya bayangan bagi bima, seorang pengagum yang menyimpan rahasianya. Tapi toh Revi memilih si mantan brengsek itu.

Bodoh. Tak terasa air mata menetes mebasahi pipi. Bodoh. Kembali Revi merintih. Badannya jatuh terhempas ke atas kasur, meringkuk, menangis, menyesali semua kesempatan yang terlewati.

Padahal baru tadi malam dia merasakan kenikmatan dari mulut seorang Rian. Orgasme yang dia rasakan, walaupun tidak dinikmati secara penuh karena dia harus menahan suara, masih terbayang-bayang. Kerudungnya sudah basah oleh air mata, begitu pula kasur yang dia tiduri. Beberapa teman yang bertanya ada apa tidak dia gubris, Revi hanya larut dengan kesedihannya. Larut. Walaupun beberapa saat kemudian dia bangkit, menyeka air matanya, menarik nafas dalam-dalam lalu dikeluarkan. Revi merapihkan kerudungnya, dan melangkah ke luar kamar diiringi pandangan penuh tanda tanya dari setiap siswi yang ada di dalam villa. Kakinya terus melangkah, ke arah bukit belakang villa, dia butuh sendiri, itu yang difikirkan Revi, di dalam kamar terlalu menarik banyak perhatian, terus berjalan, hingga Revi menemukan tempat yang teduh di bawah sebuah pohon rindang, kemudian dia duduk bersimpuh, menekukkan kakinya untuk dipeluk oleh kedua tangannya. Kepalanya tertunduk, kembali hayalannya melayang kepada sebuah dunia yang berisikan Jika.
==========

Hahaha, ya enggak gitu juga kali Yan.
Gak gitu gimana? Kamu juga kan suka. Bener kan?
Ih, udah ah, ganti subjek napa. Malu ngomongin itu terus.
Yasud, dan gimana kalo kita duduk, cape gila jalan mulu, mana tadi udah disiksa si Betawi edan lagi. Tuh, di sana ada gubug, disana aja yu.
Hmmm, gubug, jauh dari mana-mana, di tengah-tengah kebun teh, cuman berdua. Wah, gimana kalo entar Atika diperkosa Rian? Ato jangan-jangan, emang itu niat Rian bawa Atika ke sini? Wah-wah, sereeemmmm.

Idih ni anak, kamu kan anu kesini juga, tiba-tiba, yey. Kalo mau merkosa kamu mah gak mau di tempat umum, mending di hotel ato dimana, jadi Rian bisa menikmati tubuh Atika yang indah ini seutuhnya. Rian mengucapkan ini sambil memeluk Atika dari belakang, Ihhh, dasar, ahahahaha. Sambil tertawa Atika melepaskan diri dari pelukan Rian. Keduanya berlari kecil menuju gubug, lalu duduk berdampingan. Gubug ini, baru saja kemarin Rian menikmati bibir Revi yang memang nikmat untuk di lumat. Memilin putingnya. Dan menghirup wangi tubuh Revi. Kini, ditempat yang sama, namun dengan orang yang berbeda. Dengan kekasih resminya. Atika.

Pemandangannya indah.
Gak eindah kamu Ka.
Idih, Rian gombal.
Yee, dipuji malah gitu. Beneran ko.
Hehehe, beneran?
He eh, suer.
Beneran beneran beneran?
Iya sayaaaangngngng….
Beneran beneran beneran beneran bennnn…. mmmppppfffttt.

Rian mencium Atika tiba-tiba, lama bibir mereka saling pagut, badan mereka mulai saling berpelukan, tangan Atika memeluk Rian erat, dan tangan Rian selain memeluk juga bermain di pinggang Atika.

Setelah beberapa saat, mereka berhenti berciuman. Berisik. Seru Rian. Biarin.
Eh, ini anak, mau dicium lagi?
Jangankan dicium, dilumat dada Atika ama Rian juga, Atika mau ko. Hehehe.
Eh, nantangin, dasar, sini.

Atika kemudian membusungkan dadanya, yang jelas langsung disantap oleh Rian, keduatangannya mulai memainkan dua buah dada Atika, mulutnya lalu menciumi dari luar kaos yang Atika gunakan. Kemudian kembali menemukan bibir Atika. Mereka kembali berciuman dengan penuh nafsu, suara desahan dan dengusan nafas mereka terdengar jelas, jika ada yang lewat dekat gubug itu, pasti akan mendengar. Namun tampaknya pasangan itu tidak peduli, kini Rian malah sibuk menaikan kaos dan BH Atika ke atas, menampilkan dua bukit kembar Atika yang indah, dengan puting yang kecil mungil. Mulutnya turun ke bawah, menemukan puting kanan Atika, untuk kemudian mulai Rian lumat, gigit kecil dan dimainkan dengan lidahnya.

Riaannnn, ahhhh, mmmmmaaaaahhhhh. Geli sayang. Emut, terusss.
Mendangar rintihan Atika, Rian semakin bernafsu, dibukanya mulut lebar-lebar lalu disedotnya susu kanan Atika ke dalam mulutnya.
Aaahhhhh, aaahh, Riannn. Enak. Terus.
Kembali Rian melumat bibir Atika, lalu mengangkat tubuh Atika, sehingga kini, Atika duduk dipangkuan Rian, dan Rian memeluk Atika dari belakang.

Kedua tangan Rian sibuk meremasi dua bukit kembar Atika, sedangkan jemarinya memilin-milin puting Atika. Bibir mereka masih saling berpagut.
Ka, Rian buka celananya ya?

Atika hanya mengangguk, kemudian berdiri untuk lebih memudahkan Rian melorotkan celananya sampai ke lutut kemudian kembali duduk. Atika kembali menoleh ke belakang, Rian mengerti dan kembali melumat bibir Atika. Tangan kanan Rian kini turun ke selangkangan Atika, masuk langsung ke dalam CD
tanpa basa basi. Mencari belahan vagina Atika.
Udah basah sayang.

Mmmmmm. Atika hanya bisa mengeluh, ketika jari tengah Rian mulai memasuki lubang vaginanya. Terus masuk namun tidak telalu dalam, karena Rian

masih menjaga untuk tidak merusak selaput dara Atika. Kemudian, iseng, Rian memasukan jari telunjuknya juga.
Aaaah, Riann, itu berapa jari sayang?
Dua say. Enak?

Hah, hah. Enak, terus, mainin puny Atika.
Tanpa harus dikomando sebetulnya, Rian pasti memainkan jarinya. Kini jari tengahnya menekuk, menggelitik dinding vagina Atika. Sedangkan jari telunjuknya tetap bergerak, sebisa mungkin, keluar masuk.
Ha, Rian, mau nyampeee.

Mendengar itu, Rian kemudian mencium telinga Atika dari balik kerudungnya, tangan kirinya meremas buah dada kiri Atika dengan keras, dan jarinya tetap mengobel vagina Atika sampai, Keluaaarrrrrr.
Atika orgasme. Dipelukan Rian, dengan jari Rian yang masih berada dalam vagina Atika.
==========

Bima terus bergerak perlahan, mengikuti jauh di belakang Gio dan Ima, posisinya memang lebih tinggi. Mengendap-ngendap berusaha untuk tidak diketahui. Jantungnya seolah berhenti, ketika dibawah sana dilihatnya Gio memeluk Ima tiba-tiba, terlihat Ima sedikit memberontak, terutama ketika Gio mulai mencium Ima, namun itu tidak lama, Ima kemudian berhenti memberontak, malah membalas perlakuan Gio.

Tak panjang pikir, Bima menyalakan kameranya, mengarahkan lensanya ke arah dua sejoli yang sedang dimabuk rindu di bawah, lalu mulai merekam.
==========

Ayo, Ma. Udah gak kuat nih.
Mas, kita ini lagi di luar. Tar kalo ada yang liat gimana?
Gak bakalan, lagi hari libur gini, dan liat sekeliling, gak ada orang kan?
Ima refleks memandang sekelilingnya, memang sepi sih. Tapi kan ini di luar Mas.
Iya, tapi kan lebih gimanaaaa gitu sensasinya.

Gak ah, Ima gak maauuuu…. Mmmpfftt, Mas, gak mauuu, aahh.
Penolakan yang percuma, Ima hanya bisa berusaha untuk mendorong Gio menjauh, namun tenaganya kalah jauh dibandingkan dengan Gio yang nafsunya sudah di ubun-ubun. Bibir Gio terus melumat bibirnya, lidahnya berusaha masuk. Pada awalnya Ima masih bisa menahan, namun lama kelamaan pertahanannya jebol juga. Bibirnya mulai terbuka, dan lidah mereka mulai saling melilit. Ima sudah mulai terbawa suasana. Sehingga ketika Gio membuka jaketnya, Ima diam saja, kini hanya kaos putih lengan pendek yang Ima kenakan. Gio kemudian bergerak lebih jauh, tangan kananya mulai meremasi dada Ima, sedangkan tangan kirinya masih memeluk kepala Ima, keduanya masih berciuman seperti kesetanan.

Ma, mmppp, Mas kangen banget, slurrppp. Hmmm.
Mmm, Ima juga. Namun ketika mengucapkan hal itu, pertama kali ini ada sedikit rasa bohong, karena entah kenapa, yang ada tadi melintasi pikiran Ima adalah Bima.

Ahhh. Ima terpekik, kala Gio membalikan tubuhnya, lalu menurunkan celana yang dia gunakan, Ima menggunakan celana training, sehingga mudah sekali bagi Gio untuk menurunkannya lengkap dengan Cd nya. Ima dibuat mengungging, rupanya Gio sudah sangat rindu dengan tubuh kekasihnya ini. Karena tak lama kemudian, celana jeans yang dia gunakan pun sudah jatuh ke tanah. Kemaluannya sudah menegang keras, dan mulai digesekkan pada bibir vagina Ima.

Saya masukin Ma. Heeuppphh.
Ahhh, Mas, aaaaahhhh.

Gio mulai memompa Ima, sambil berdiri mereka melakukannya di luar, di alam bebas. Badan Ima condong ke depan, ke dua tangannya bertumpu pada batu yang lumayan besar. Sedangkan Gio dibelakangnya terus memompa dengan keras dan cepat, kedua tangannya mencengkram keras pinggang Ima, tanpa ada perubahan gaya bercinta, Gio terus memompa Ima.

Mas Mas, ah, Ima mau keluar. Ahh, terus, yang keras.
Yang keras apa sayangghh?
Entot Ima yang keras, ah. Iyah, ah ah, keluar Masssss….. Ah, ah, udah dulu, ahhhhh, Mass, ahhhh.
Gio tampaknya benar-benar bernafsu, sudah beberapa hari ini dirinya tidak merasakan nikmatnya lubang vagina Ima. Gio tetap memacu, hingga. Mau

keluar Ma, balik. Seraya Gio memutar tubuh Ima dan mendudukannya, mengarahkan penisnya ke dalam mulut Ima, Terima sayangghhh ahhhh. Badan Gio bergetar, semprotan spermanya banyak sekali memasuki mulut mungil Ima yang terpaksa Ima telan.
==========

Udah bukan perawan lagi. Bima mendesah, jantungnya berdegup kencang, marah, iri, cemburu dan nafsu, semua bercampur aduk. Ingin rasanya dia berteriak setelah menyaksikan apa yang terjadi di bawah sana. Namun dia masih bisa berfikir logis.

Kemudian dia melihat ke bawah lagi, dilihatnya kini Gio berusaha melepaskan kaos Ima, rupanya mereka akan melanjutkan kembali permainannya, ingin rasanya Bima kembali menyaksikan dan mengambil rekaman, namun hatinya yang hancur sudah tak kuasa menahan beban, Bima bangkit, lalu setengah berlari pulang ke arah villa. Pikirannya tidak menentu, langkahnya kacau, beberapa kali dia hendak terjatuh, rasa iri dan cemburu semakin membara. Membuatnya semakin berlari kencang, hingga dia tak kuat lagi berlari, berhenti, mengatur nafas dan menyeka keringat.
Hmmm, Revi?

Sudut matanya melihat sesosok wanita sedang duduk memeluk kakinya di sebuah pohon rindang, Revi, perlahan Bima mendekati sahabatnya itu, Nangis? Bima berfikir.

Kenapa kamu Vi?
Eh, ah, gak, gak kenapa-napa? Ehem, dari mana Bim? Revi berusaha untuk terlihat tenang, walaupun sudah jelas matanya merah dan masih basah.
Rian ya?
Huh, kenapa dengan Rian?
Udah lah, kalian itu, mau diumpetin segimana juga kanyahoan. Bima kemudian duduk disamping Revi.
Gak adil ya Vi, hanya karena kita bersahabat, sampe-sampe kita sulit menyatakan apa yang kita rasa, karena gak mau ngerusak persahabatan. Walaupun pada akhirnya, hati kita yang rusak.
Hahaha, nasib kita sama ya Bim. Aku dengan Rian dan kamu dengan Ima. Sahabat yang mencinta namun tak boleh mencinta.
Hahaha, bodoh ya kita, seharusnya kita bisa melihat dari awal dan mengambil keputusan yang tepat dari awal. Gak kaya sekarang.
Revi hanya bisa mengambil nafas panjang mendengar ucapan Bima. Eh, ngomong-ngomong, dari mana kamu?
Bima terdiam beberapa saat. Ngikutin Ima ama Gio.
Hah? Ngapain juga?
Cuman penasaran, dan ternyata bener, Ima udah jauh ama Gio. Mereka udah, udah.
Udah Apa?
ML.
Serius?

Bima mengangguk, Tadi mereka juga gituan di lembah sana. Bikin iri aja.
Di lembah? Di luar? Gak nyangka, kalo Gio sih aku gak aneh, nah ini Ima, ko mau maen di luar? Revi mengingat kembali pengalamannya dengan Gio yang tidak ragu untuk menjelajahi dirinya di alam luar.
Iya, hahahaha, ternyata kita belum saling kenal banget ya?
Revi tidak menjawab. Mereka berdua diam seribu bahasa, lama, sampai kepala Revi bersender pada bahu Bima, dan dibiarkan begitu untuk beberapa menit.
Dulu, sebenernya aku suka ama kamu Bim.
Serius Vi?

Iya, kamu ganteng, baik, sedikit cuek, tapi aku suka.
Hahahaha, dasar putri gunung. Bima kemudian merangkul Revi dan mengecup keningnya, hanya berniat sampai situ, mengecup kening. Namun kemudian Bima melihat hidung mancung Revi, hidungnya yang lurus dan bibirnya yang tipis, indah. Dan entah siapa yang memulai, bibir mereka kemudian bertemu. Rasa cemburu dan iri mereka tumpahkan seluruhnya, Revi berkhayal dia melakukan ini dengan Rian, dan Bima dengan Ima.

Kini bukan hanya berciuman, tangan Bima sudah aktif meremas buah dada Revi dari balik bajunya dan Revipun sudah mulai meremasi penis Bima dari luar celananya. Seteleh beberapa saat saling meraba dan meremas, mereka berhenti, nafas mereka saling buru, kemudian Bima berdiri, menarik tangan Revi, Jangan di sini. Telalu ke buka. Mobil si Indra kacanya gelap dan lapang.

Tanpa mendengar pendapat Revi, Bima menarik tangan Revi dan keduanya berlari ke arah parkiran mobil. Bima melihat keadaan sekeliling, aman pikirnya, dan dia lalu membuka pintu belakang mobil Indra. Masuk Vi.

Revi sedikit ragu, namun nafsu yang sudah di ubun-ubun tak bisa terkalahkan, ketika keduanya sudah ada di dalam, Bima langsung melepas kaos dan celananya, begitu pula Revi, bahkan kerudungnya pun dia buka, keduanya polos tanpa busana. Bima termenung melihat badan Revi, buah dada yang membulat sempurna dan kulit yang putih bersih, puting mungil erwarna merah muda yang masih malu-malu untuk keluar, kamaluan yang tertutupi oleh bulu-bulu yang tidak begitu lebat.

Apa sih, liat-liat?
Kamu cantik Vi.
Idih, gombal, udah telanjang bulet gini aja baru di bilang cantik.
Beneran, udah ngapain aja ama Rian?
Mau tau atau mau tau banget?
Yey. Jawab napa.
Hehehe, udah ah, sini. Dan Revi mencium Bima.
Hmmm, bibir kamu Vi, nikmat banget.
Iyah, udah banyak yang bilang.
Banyak? Tar, udah berapa orang yang nikmatin bibir kamu?
Ih, ni anak, banyak omong, mau diterusin gak? Dingin nih.
Hehehe, iyah Revi cantiiiikkkk.

Dan kemudian Bima menerkam Revi, dibaringkannya Revi di jok, kemudian mulai dia tindih, petting. Udah dimasukin belum Vi?
Belummm, aahhhh, Bimaaaaahhh. Revi mendesah, kala Bima mulai memainkan puting dan buah dadanya dengan mulut dan lidah. Desahan yang menggoda, fikir Bima. Bener-bener gak nahan dengernya. Desahan Revi membuat Bima lebih liar lagi. Kembali digesekkan penisnya di belahan vagina Revi, bibir mereka masih saling melumat habis. Keringat sudah mulai bercucuran. Rasa dingin sudah hilang.

Tangan Bima kemudian turun, memegang kepala pepisnya, mengarahkannya ke vagina Revi. Bima mulai memasukkan kepala penisnya, hanya kepalanya saja, masih ditahan oleh jari-jarinya, Bima kemudian memainkan penisnya, keluar masuk, naik turun, ke kiri ke kanan, membuat Revi semakin mendesah menjadi-jadi.

Ah, Bima, diapain, enakkk aahhh bangethhh, eeee, udah mau keluar, ah, ah, dah mau keluar. Rupanya nafsu Revi sudah sangat tinggi, hingga tidak butuh waktu yang lama sampai akhirnya dia orgasme, tubuhnya menekuk ke depan, mulutnya terbuka tak bersuara.

Hal yang sama dirasakan oleh Bima, tapi dia masih ingin bermain lebih lama, Bima kemudian maju, menyimpan penisnya diantara bulatan payudara Revi yang bulat. Revi tau apa yang Bima mau, tit fuck. Revi kemudian menekan kedua buah dadanya, agar jepitannya pada peni Bima semakin keras, Bima pun tak menunggu lagi, mulai memaju mundurkan penisnya, terkadang kepala penisnya Revi jilat dan Revi hisap. Mereka terus melakukannya, sampai akhirnya rasa itu sudah terasa, spermanya sudah ada di ujung penis, Bima kemudian mengangkat badannya, mengocok penisnya di depan wajah Revi, hingga.

Clek, pintu mobil terbuka, Hayo, kalian lagi nga ….?

Aaaaaahh” Revi berteriak.

Haaahhh. Tanggung, Bima terus mengocok sampai CROTTT spermanya muncrat ke wajah Revi, banyak sekali. Wajah Bima merah semerah merahnya, panik.
Namun tidak sepanik Revi. Karena dilihatnya Rian sedang berdiri terpaku memegang pintu mobil.

TAMAT MASA SMA.

Author: 

Related Posts

  • Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/10-5-330dmwlec818ikfj193cp6.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/image-blank-33tpelh41i14bjb4m3szyi.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Tante sange Obok Memek Sendiri
  • Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/141883_14big-32qlbryr2q9ffqhg2wnu2y.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/141883_01big-32qlbi5xfwoqny9g1c8owa.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/141883_01big-32qlbi5xfwoqny9g1c8owa.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/image-blank-33tpelh41i14bjb4m3szyi.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Foto Ngentot Gadis Asia Perawan
  • Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/8-32p6f8bdiw8islkw9jyznu.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/2-32p6f3jhjrzd6r7rmmy2oa.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/2-32p6f3jhjrzd6r7rmmy2oa.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/image-blank-33tpelh41i14bjb4m3szyi.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Jilat dan Entot Memek Merah Murid Tercantik
  • Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/005-32l7w9ktd1wsnos5lwowsq.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/005-32l7w9ktd1wsnos5lwowsq.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/005-32l7w9ktd1wsnos5lwowsq.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/image-blank-33tpelh41i14bjb4m3szyi.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Foto Perawan Alyssa Branch Dientot Negro Kontol Gede

Comments are closed.