Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 16

Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 16by on.Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 16Dark Secret II : Revenge – Part 16 Chap 4 Faint Part 4 ~ ~ ~ * * * ~ ~ ~ Andri POV Perlahan mata Lidya yang dari tadi tertutup terbuka. Semua orang yang berada didalam kamar itu bersorak gembira menyambutnya. Dokter memeriksa denyut nadi dan tanda-tanda fisik lainnya dan tersenyum kearah Kak Anisa. […]

tumblr_ma0t3suLKe1rbg6myo1_500 tumblr_ma0t3suLKe1rbg6myo10_500 tumblr_nbibxo5cDD1tvk1wzo3_500Dark Secret II : Revenge – Part 16

Chap 4
Faint
Part 4

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~
Andri POV

Perlahan mata Lidya yang dari tadi tertutup terbuka. Semua orang yang berada didalam kamar itu bersorak gembira menyambutnya.

Dokter memeriksa denyut nadi dan tanda-tanda fisik lainnya dan tersenyum kearah Kak Anisa.

Suasana yang tadinya murung berubah menjadi riang ketika terdengar suara sengau memecah sukacita itu. Suara Lidya.

“Aku dimana? Siapa kalian?”

Pandangan mata Lidya menyapu ruangan dan ketika pandangan matanya bertemu denganku, kulihat pandangan mata yang kulihat tiga tahun lalu di gudang Alfa Medika.

Mungkinkah???

Kuambil handphone dan mengirimkan pesan kepada Galang dan kembali mengamati perkembangan situasi.

Suasana ruangan yang tadinya ceria sedikit berubah ketika mendengar perkataannya. Kak Anisa melihat kearah dokter dengan pandangan bertanya.

“Selamat pagi mbak, ini berapa mbak?” tanya dokter kepada Lidya sambil menunjukkan dua jarinya.

“Dua,” jawab Lidya dengan mantap.

“Sekarang mbak tau tanggal berapa?” tanya dokter sambil memperhatikan Lidya dengan seksama.

“Tanggal 20,” jawab Lidya.

“Tahun?”

“2015” jawab Lidya dengan yakin. “Kenapa dok?” tanya Lidya heran.

“Hhmmmmmm….,” gumam si dokter sambil melihat kearah Lidya.

“Bapak-bapak, ibu-ibu semua, tolong keluar sebentar ya,” kata pak dokter dengan ramah. Dengan perlahan kulihat Kak Anisa melangkah keluar dari dalam ruangan dan dia memandang heran kearah aku dan Puspa yang berada diluar.

“Eh mbak, ini dompetnya, tadi jatuh diluar…” kataku sambil memberikan dompetnya.

“Ouwh, ini mas,” katanya sambil mengambil selembar uang berwarna merah dan mengulurkannya kepadaku.

“Ouwh.. Gak usah mbak, mari mbak” kataku sambil melangkah menuju keluar. Sementara kulihat Puspa sedang melangkah keruangan lain.

Kulirik sekali lagi kakak yang berdiri mematung disana. Terlihat wajahnya seperti memikirkan sesuatu.

Apakah dia mengetahui kalau aku adalah Andri? Apakah…

Pikirku sambil menuju keparkiran dan mengendarai taksiku mencari penumpang pertama di pagi ini. Dan itu adalah mereka…

Dua orang gadis terlihat sedang berjalan keluar dari sebuah apartemen mewah di pusat ibukota. Wajah keduanya terlihat lelah namun senyum terkembang menghiasinya.

“Taksi!” panggil gadis yang lebih muda sambil melambaikan tangannya. Pakaiannya yang serba mini mau tak mau menjadi pusat perhatian orang-orang yang melintas.

Dengan segera kutepikan taksi dan menginjak pedal gas ketika mereka sudah berada didalam.

“Kemana mbak-mbak?” tanyaku sambil tersenyum simpul.

“Iiihhhh… Mas jahat…, pulang dulu deh mas, capek tau!” kata yang lebih muda, Sisca, sambil merenggut manja.

“Capek apa enak?” godaku lebih lanjut.

“Hihihi… Keduanya sih mas, tapi punya mas jauh lebih enak..hihihi,” balas Sisca dengan genit. Sementara kulihat Nia hanya tersenyum saja, namun tangannya bergerak perlahan seolah mengelus dada dan vaginanya!

Alamak!

“Hhhmmmm… Itu nanti saja, gimana dengan tugas kalian?” tanyaku, berusaha keras terdengar tegas.

“Uuuuhhhhh… Tugas mulu! Nanggung banget nih mas, Sachi dah keok nih dikerjain Mbak Nia…,” gerutu Sisca sambil membusungkan dadanya dan orang paling begopun akan tahu dari putingnya yang menjeplak kalau dia tidak mengenakan bra untuk melindungi dadanya itu.

“Ehhhh… Nanti aja gimana? Nanti abis itu ‘kerja ekstranya’” jawabku berusaha mengendalikan hasrat yang mulai muncul dan membuat sesuatu dibawah sana menggeliat pelan.

“Gimana kalau barengan saja mas?” kata Nia memberikan saran dengan suara pelan dan ketika kulirik wajahnya terlihat memerah.

Berkeringat dan merangsang!

“HHmmmmm… Ya udah, di Spa aja ya?” kataku menyerah menahan godaan dua bidadari yang kelaparan ini.

“Kenapa harus nunggu di spa mas?” goda Nia dengan celana pendeknya yang sudah melorot ke pertengahan paha, memperlihatkan bagian putih, sekal dan mulus itu.

“Eh? Dimana?” kataku heran melihat nafsu mereka yang begitu tinggi pagi ini, jangan-jangan?

“Mau mas?” kata Sisca dengan senyum menggoda sambil memperlihatkan beberapa pil warna biru!

Pantes!

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~
Perlahan kerumunan warga itu bubar ketika mereka tidak melihat jejak si jambret digang-gang yang sayangnya banyak terdapat disekitar tempat itu.

Dengan ujung mata kulihat mereka pergi dari depan toko tempat ku berbelanja. Setelah membeli sebotol air mineral dan membayar dikasir, aku keluar dan berjalan menjauh dari tempat itu.

Setelah cukup jauh dari tempat itu, kubuka dompet Tasya. Dan…

Plokkkk….

Sebuah benda yang dilapisi alumunium foil terjatuh…

Sebuah kondom!

Kondom? Tasya???

Pikirku tak percaya sambil mengambil kondom yang jatuh dan memasukkannya kedalam dompet itu. Kulihat lagi dompet itu, hanya ada beberapa lembar pecahan 50 ribu dan kartu pengenal lainnya. Tidak ada hal lain yang mencurigakan disana.

Drrtttt….Drrttttt….Drtttttt…..

Sebuah SMS masuk ke HPku

Sender : Rangga
Message : Mawar bangun.

Hmmmmmm… Dengan ini kami bisa selangkah lebih maju atau….

Sekarang ke G-Team. Tempatnya Andri dahulu.

Pikirku sambil melihat iklan sebuah lowongan pekerjaan sebagai security di salah website pencari kerja. Kuambil satu buah map berwarna biru dan melihat foto dan data diri palsu yang dibuatkan Andri. Saatnya bekerja.

Dengan langkah cepat aku mencari sebuah taksi dan menuju ke G-Team. Tak berapa lama aku sampai di gedung yang beberapa tahun lalu bolak-balik ku kunjungi dengan Herman.

Kupandangi bangunan megah yang dibagian depannya dijaga dengan ketat oleh security. Terlihat pintu masuknya hanya bisa diakses dengan menggunakan ID Card sementara beberapa CCTV terlihat terpasang di sudut-sudut bangunan.

Kenapa pengamanannya seketat ini? Pikirku sambil melangkah mendekati salah satu security.

“Selamat Siang pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu security begitu aku tiba didepannya.

Ramah dan tegas.

“Selamat siang pak, saya Gilang, saya mau melamar pekerjaan di bagian security pak,” kataku datar.

Sejenak dia memandang diriku dan menganggukkan kepalanya lalu menghubungi seseorang dengan walkie talkie yang
dibawanya.

“Mari ikut saya pak,” katanya setelah selesai menghubungi rekannya.

Sambil menganggukkan kepala aku mengikuti langkah si security menuju salah satu ruangan yang ada didekat resepsionis. Kulihat gadis yang dahulu masih ada dibalik meja resepsionis. Kami melangkah menuju sebelah ruangan rapat, yang mungkin sekarang adalah ruangan HRD nya.

“Silahkan masuk pak, sudah ditunggu didalam,” kata si security mempersilahkan dan berbalik menuju ketempatnya tadi.

Dengan tenang kuketuk pintu ruangan itu dan terdengar suara samar yang mempersilahkanku untuk masuk.

Masuk….

Kubuka pintu dan seraut wajah yang sudha tidak asing bagiku memandang dari balik meja. Wajahnya yang putih itu dihiasi oleh kacamata kecil yang menambah anggun wajahnya.

Senyum kecilnya menyambut kedatanganku, lalu dengan anggukan ringan dia menyapaku.

“Selamat siang pak, silahkan duduk dulu…,” katanya dengan ramah sambil menunjuk kursi didepannya.

“Terimakasih mbak,” sahutku sambil duduk dikursi yang ditunjukkannya.

“Dengan pak?” tanyanya setelah aku duduk.

“Saya Gilang mbak, ini data diri saya,” kataku sambil menyerahkan map yang kubawa.

Sambil tersenyum diterimanya map yank aku bawa dan mulai membaca isinya. Terlihat bibirnya yang merah menggigiti pulpen yang dibawanya.

Dia masih saja seperti dulu! Seksi dan menggoda!

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~
Dengan langkah yang pelan kuikuti suster yang mengantarku ke kamar mayat. Dengan linglung kuikuti suster itu kedalam ruangan. Ruangan itu dingin, sangat dingin, bisa kurasakan rambut-rmabut halus ditubuhku berdiri ketika masuk kedalam ruangan.

“Saudari Karin kan mbak?” tanya si suster memastikan.

Kujawab pertanyaannya dengan anggukan kepala ringan.

Si suster kemudian menuju kesalah satu brankar dan menariknya. Sesosok mayat yang terbujur kaku terlihat disana. Wajahnya terlihat cantik dengan senyum mengembang. Sayangnya, wajah yang biasanya tersenyum hangat itu sekarang dingin serta terbujur kaku.

Perlahan kurasakan mataku memanas sebelum air mata mengalir turun membasahi pipiku. Tak bisa kutahan lagi pikiranku melayang mengenang segala kenakalan dan tingkah polah Karin selama ini.

Sreeegggg…

Suara pintu terbuka menyadarkanku dan kulihat seorang lelaki dengan seragam polisi menerobos masuk, lelaki dengan wajah yang mirip dengan Karin.

“Karin!” teriaknya ketika melihat jenazah adiknya yang terbujur kaku. Perlahan wajahnya yang keras ditempa segala permasalahan hidup berubah menjadi lunak dan untuk pertama kalinya kulihat air mata menggenang di wajahnya yang tampan itu.

Perlahan bahunya yang bidang bergetar dan lelaki yang kukenal tangguh itu jatuh berlutut melihat adik yang sangat disayanginya sekarang terbujur kaku.

“Kak Arka,” kataku sambil menghampirinya dan berlutut didekatnya. Kugenggam tangannya dan meremasnya, ingin memberinya kekuatan untuk bisa menghadapi kejadian ini.

“Tri…,” katanya lemah sambil mengusap air mata di matanya yang sekarang terlihat memerah. Wajahnya yang tadi begitu sedih perlahan berubah menjadi seperti lelaki yang biasanya kukenal. Wajah Inspektur Arka!

Dengan lembut dia menarik tanganku berdiri dan menoleh kearah suster yang berdiri disamping jenazah adiknya.

“Dia benar Karin, adik saya…,” kata Mas Arka memberikan pernyataan.

“Baik pak, ” kata suster itu sambil mendorong jenazah Karin.

“Ayo Tri, ” kata Mas Arka sambil mengajakku keluar kamar mayat. Perasaan lega menyelimutiku ketika kami sudah sampai diluar. Kulihat dua orang polisi menunggu tak jauh dari kami. Mereka terlihat ragu-ragu ketika kami mendekat kearah mereka.

“Pak… Eh.. Untuk….,” terlihat salah seorang dari mereka berbicara dengan terbata, yang mana, segera dipotong oleh Mas arka.

“Tidak ada yang berubah, aku yang akan tetap menangani kasus ini, kalain cari tahu dengan siapa korban terakhir kali bersama, kapan dan berapa lama. Pokoknya cari tahu semua detail mengenai pekerjaan korban,” kata Mas Arka dengan tegas. Hilang sudah kesedihan yang ada diwajahnya, walaupun kalau kuamati, sinar matanya masih tak secerah biasanya.

“Aku akan ke tempat kos korban sekarang, kalian tunggu apalagi?” Tanyanya ketika bawahannya masih diam ditempatnya.

“Siap pak,” jawab kedua orang bawahannya serentak lalu berbalik meninggalkan kami.

“Tri, aku perlu memeriksa kamar Karin,” pinta Mas Arka.

“Iya mas,” jawabku dengan pelan. Kami kemudian menuju ke kamar kos kami dalam diam. Sampai di tempat kos, kubuka pintu kamar kos dan mempersilahkan Mas Arka masuk.

Dengan mengenakan sarung tangan tipis, Mas arka memeriksa barang-barang kepunyaan Karin. Itu semua dilakukannya dalam diam hingga membuatku cukup merasa gelisah.

“Tri, apa ini?” tanya Mas Arka dengan nada keheranan.

Ketika aku melihat apa yang dipegang Mas Arka. Darahku terasa mengumpul diwajah.

OH My God!

Author: 

Related Posts

  • Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/10-5-330dmwlec818ikfj193cp6.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/image-blank-33tpelh41i14bjb4m3szyi.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Tante sange Obok Memek Sendiri
  • Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/141883_14big-32qlbryr2q9ffqhg2wnu2y.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/141883_01big-32qlbi5xfwoqny9g1c8owa.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/141883_01big-32qlbi5xfwoqny9g1c8owa.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/image-blank-33tpelh41i14bjb4m3szyi.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Foto Ngentot Gadis Asia Perawan
  • Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/8-32p6f8bdiw8islkw9jyznu.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/2-32p6f3jhjrzd6r7rmmy2oa.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/2-32p6f3jhjrzd6r7rmmy2oa.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/image-blank-33tpelh41i14bjb4m3szyi.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Jilat dan Entot Memek Merah Murid Tercantik
  • Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/005-32l7w9ktd1wsnos5lwowsq.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/005-32l7w9ktd1wsnos5lwowsq.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/005-32l7w9ktd1wsnos5lwowsq.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/image-blank-33tpelh41i14bjb4m3szyi.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Foto Perawan Alyssa Branch Dientot Negro Kontol Gede

Comments are closed.