Cerita Dewasa Once Upon A Time In Someplace – Part 19

Cerita Dewasa Once Upon A Time In Someplace – Part 19by on.Cerita Dewasa Once Upon A Time In Someplace – Part 19Once Upon A Time In Someplace – Part 19 Chapter XIX : Eagle Mobilku terdorong keluar dari jalan itu dan meluncur turun kebawah , saat itu kepalaku membentur sesuatu. Dan kurasakan sakit luar biasa pada kepala, perlahan pandanganku menjadi gelap dan tidak kurasakan apa-apa lagi setelah itu. -=+=- Aku merasa berjalan sangat panjang ditempat yang […]

tumblr_mjjp3zrS6X1rl5fsho7_1280 tumblr_mjjp3zrS6X1rl5fsho8_1280Once Upon A Time In Someplace – Part 19

Chapter XIX : Eagle

Mobilku terdorong keluar dari jalan itu dan meluncur turun kebawah , saat itu kepalaku membentur sesuatu. Dan kurasakan sakit luar biasa pada kepala, perlahan pandanganku menjadi gelap dan tidak kurasakan apa-apa lagi setelah itu.

-=+=-

Aku merasa berjalan sangat panjang ditempat yang benar-benar gelap. Entah berapa lama aku berjalan ditempat itu, ketika kulihat setitik cahaya di ujung lorong sana. Aku terus berjalan, tapi kurasakan tetap berada ditempat karena jarak antara diriku dan cahaya itu tidak berubah.

Kurasakan putus asa yang sangat dalam, dan ingin rasanya tetap ditempat dan tidak ingin kemana-mana. Saat aku merasa benar-benar putus asa dan berhenti berjalan ditempat. Saat itu juga aku seperti mendengar suara memanggil namaku “Gavin… Viiin” Walau samar tapi seperti terdengar jelas ditelingaku, dan aku seperti mengenal suara itu. Suara itu kudengar terus memanggil namaku “Viiin… Gavinnn” Aku pun mencoba kembali bergerak untuk mendekat kearah suara itu, yang seperti datang dari setitik cahaya di ujung sana.

Suara itu kudengar semakin jelas dan dekat ditelingaku, juga seperti memberikan semangat. Sehingga aku mencoba untuk terus berjalan kearah cahaya dan suara itu. Kini kurasakan cahaya itu semakin dekat dan lebih terang. Kurasakan disekelilingku mulai berwarna kelabu, tidak seperti tadi hitam pekat. Entah berapa lama kemudian aku sampai juga di cahaya itu.

-=+=-

Saat pertama kulihat cahaya itu mataku terasa silau sekali, akupun kemudian memejamkan mata kembali. Selain itu kurasakan sakit pada seluruh tubuhku, kaki dan tanganku serasa kaku tidak bisa digerakkan.

Perlahan kucoba membuka kembali kedua mataku. Kali ini sudah tidak terlalu silau, tapi masih kurang jelas penglihatan mataku. Perlahan matakupun bisa melihat dengan jelas. Yang pertama kulihat adalah Dua wajah orang yang paling berharga bagiku, Ayah dan Ibuku. Wajah mereka menampakkan kesedihan yang sangat, sementara dikedua mata Ibuku berurai air mata. Ingin rasanya aku memanggil mereka. Tapi saat aku mencoba melakukan itu, kurasakan sakit dan perih ditenggorokanku. Tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Saat aku ingin mencoba menyentuh mereka dengan tanganku, kurasakan hal yang sama. Tanganku serasa kaku dan tidak bisa digerakkan.

Ayah dan Ibu kemudian menciumiku dengan penuh kasih sayang. Kini mulai nampak senyum di bibir mereka. Aku hanya bisa memandang tanpa bisa membalas perlakuan maupun ucapan mereka. Tanpa kusadari mataku berkaca-kaca, dan air mata meleleh dikedua pipiku. Ibu dengan penuh kasih sayang menyapu air mata yang membasahi pipiku. Melihat wajah ayah dan ibu yamg penuh kedukaan, aku dapat merasakan betapa sedih dan khawatirnya Ayah dan Ibu melihat keadaanku seperti ini.

Aku masih ingat, betapa cemasnya mereka saat aku tidak mau makan, atau karena terjatuh karena berlarian. Apalagi melihat keadaanku seperti ini. Ingin aku mengatakan pada mereka agar tidak terlalu bersedih, tapi kurasakan tenggorokanku masih sakit dan perih. Kulihat Ayah keluar dari ruangan, dan tidak beberapa lama kemudian dia datang kembali bersama seorang Dokter dan dua orang lainnya.

Yang berjalan disamping dokter adalah Mas Bram, sementara lelaki yang berjalan dibelakang mereka aku belum mengenalnya. Dokter langsung memeriksa keadaanku, setelah selesai memeriksa kemudian dokter berbicara dengan Ayah. Sementara Mas Bram mendekatiku, dari raut mukanya tampaknya dia juga cukup bersedih melihat keadaanku. “Mas gembira melihatmu sudah sadar Vin. Menurut Dokter kamu perlu banyak istirahat, mungkin satu-dua hari kita baru bisa berbincang-bincang. Yang penting kamu sudah sadar.”

“Oh ya, mungkin kamu belum bisa mengucapkan terima kasih kepada penolongmu. Tapi paling tidak kamu harus tahu siapa orang yang menolong dan membawamu kerumah sakit”. Mas Bram lalu memanggil leleki yang tadi masuk bersamanya. “Perkenalkan Vin, Namanya Elang Mahija. Panggil saja Elang.” Lelaki itu tersenyum dan mengangukkan kepalanya kepadaku.

Aku kemudian memperhatikannya. Lelaki yang masih muda, mungkin sekitar 24 atau 25 tahun sama sepertiku. Tubuhnya tinggi, mungkin 185 cm seperti Mas Bram. Tapi badannya lebih kekar dan tegap dari Mas Bram. Rambutnya dipotong pendek, dengan cambang dan kumis tipis yang menyatu. Wajahnya tampan, dengan tatapan mata tajam seperti elang. Benar-benar tipe pria jantan.

Setelah itu Mas Bram dan Elang keluar dari ruanganku. Setelah mereka keluar semua akupun istirahat kembali. Hanya Ibu yang ada diruangan itu, melayani kebutuhanku dan menjaga jika ada sesuatu. Aku berusaha untuk beristirahat dan melupakan dulu apa yang terjadi, seperti pesan dari Dokter. Baru kuketahui ternyata aku sudah pingsan tiga hari sejak kejadian waktu itu.

-=+=-

Dua hari kemudian barulah aku bisa bersuara. Saat kutanyakan kepada Dokter dia mengatakan karena leherku tergores kaca, sehingga mengenai pita suara. Untung tidak parah, jadi bisa sembuh dengan cepat. Selain sudah bisa bersuara, tanganku juga sudah bisa digerakkan. Walau belum bisa bergerak bebas.

Selama dua hari ini ada beberapa teman kerja yang datang. Ada yang datang sendiri, dengn keluarga, maupun dengan sesama teman kantor. Teman kantor yang datang lebih dari dua kali adalah MBak Ina, Rini, Tina, Rachma, Dion, dan Fariz. Bisa dibilang Dion dan Fariz ikut menjaga kalau malam. Mungkin sebagai rasa solidaritas diantara kami, yang telah tiga tahun tinggal bersama.

Sementara untuk Mbak Ina dan Rini bertiga, kedatangan mereka kadang membuatku merasa malu kepada Ayah dan Ibu. Karena setelah mereka pulang, maka Ayah dan Ibu akan bertanya tentang mereka. Mungkin naluri sebagai orang tua membuat mereka melihat adanya ketertarikan wanita-wanita itu pada anak laki-laki mereka.

Mbak Lula juga kadang menengok, Dia tahu karena menghubungi kantor. Mungkin ketika hari jum’at itu aku tidak bisa dihubungi, dan Mbak Lula kemudian menelepon kekantor dan mengetahui peristiwa yang menimpaku. Selain itu Mbak Lula juga kadang bertugas dirumah sakit ini. Jadi tidak menimbulkan pertanyaan pada Ayah dan Ibu.

Tentu saja selain mereka, yang sering menengok adalah Mas Bram. Bisa dibilang saat sedang tidak jam kerjanya, dia disini. Satu lagi yang membuatku penasaran adalah keberadaan Elang. Tampaknya dia tidak pernah meninggalkan tempat ini, Aku benar-benar tidak tahu maksud dan tujuannya. Aku memang belum sempat menanyakan tentang dirinya, selain mengetahui bahwa namanya Elang.

Siang itu saat Mas Bram datang aku bertanya padanya. “Mas, aku ingin tanya tentang Elang ?”

“Tentang Elang. Maksudnya ? tanya Mas Bram.

“Ya tentang dia, mengapa dia disini ikut menjagaku. Apa dia mempunyai sesuatu urusan denganku atau dengan rumah sakit ini ?”

“Oh itu’ Kalau itu Mas yang minta dia tetap disini. Selain itu dia juga mempunyai misi tersendiri.”

“Apakah dia seorang polisi ?”

“Ya benar”

“Apa tugasnya ada hubungannya denganku ?”

“Bisa ya, juga bisa tidak. Kamu tentu tahulah maksud Mas”

“Ya aku tahu Mas. Mas pasti khawatir orang-orang yang menyerangku akan kembali mengulangi perbuatannya. Tapi yang membuatku heran kenapa dia berada ditempat kejadian waktu itu, kebetulan atau ada hal lainnya.”

“Kalau masalah itu kamu bisa tanyakan sendiri padanya, apa dia akan menceritakannya padamu atau tidak itu tidak bisa dipaksakan. Yang jelas, dia bukan pemuda sembarangan. Mungkin kamu bisa berteman dengannya.”

“Baiklah, nanti aku akan berusaha berbincang-bincang dengannya.” Setelah itu Mas Bram pamit pada Ayah dan Ibu.

Sore harinya beberapa orang yang datang menjengukku membuat heboh. Karena yang datang adalah beberapa orang selebritis tanah air. Ada Bunda Maia, Mbak Rossa, Mbak Yuni, Mbak kris dan Raul, dan beberapa seleb lainnya yang pernah kenal denganku. Ayah dan Ibu sampai kaget, mengetahui ternyata anaknya mempunyai banyak teman publik figur. Tentu saja aku mengatakan kepada mereka bahwa aku kecelakaan bukan karena serangan seseorang. Mereka tampaknya sangat sedih melihat keadaanku seperti ini, terutama yang pernah bercinta denganku.

Saat waktu untuk menjenguk habis, mereka sepertinya masih enggan meninggalkan ruanganku. Mereka semua menciumku sebelum meninggalkan ruangan. Hal mana yang membuat Ayah dan Ibu bertambah terkejut. Malam itu juga Mbak Venna juga datang menjenguk walau sebentar.

Dua hari kemudian aku sudah bisa menggerakan kaki, tapi belum boleh turun dari ranjang. Sampai saat itu, aku juga belum sempat berbicara serius dengan Elang. Karena Ayah maupun Ibu selalu berada didekatku. Dia juga sudah akrab dengan orang tuaku. Bahkan Ayah dan Ibu sudah menganggapnya seperti anak kedua. Hari ini adalah hari terakhir cuti kerja Ayahku. Dan Ayah diminta untuk segera kembali kekantor, tidak perlu menunggu hari senin.

Bagi Ayah, tanggung jawab adalah yang utama. Walau dia masih khawatir dengan keadaanku, tapi dia tetap berkeputusan untuk pulang. Sementara Ibu juga kemudian memutuskan untuk ikut pulang bersama Ayah, setelah mendapat jaminan dari Mas Bram bahwa dia akan menjagaku dan juga dari Dokter bahwa keadaanku tidak perlu dikhawatirkan.

Keesokan harinya, dengan diiringi tangis Ibu dan pesan Ayah mereka meninggalkan rumah sakit. Ayah dan Ibu pulang kekota Pekalongan. Jika selama ada Ayah dan Ibu aku tidak berani bertanya pada Elang tentang tugasnya, maka siang itu setelah aku menjalani pemeriksaan rutin dan minum obat. Aku mulai berbincang-bincang dengan Elang untuk mengenalnya lebih dalam dan juga tentang keberadaannya ditempat ini.

“Lang, Maaf boleh aku bertanya hal yang sifatnya pribadi ?” Tanyaku memulai percakapan.

“Sebenarnya aku tidak suka membicarakan masalah yang sifatnya pribadi kepada orang lain. Tapi kali ini mungkin pengecualian, entah mengapa aku percaya padamu dan meganggapmu saudara. Padahal belum lama kita saling mengenal. Tapi sejak aku melihatmu, aku punya feeling bahwa kamu orang yang baik dan bisa dipercaya. Hingga aku bersedia menerima perintah dari Pak Bram untuk menjagamu.” Jawabnya.

“Apa hanya karena perintah Mas Bram, atau ada hal lainnya. Ujarku dengn nada ingin tahu.

Elang diam untuk beberapa saat, setelah itu diapun menjawab. “Baiklah, cepat atau lambat kamu juga akan tahu.”

“Apa kamu tahu tentang orang yang bernama ‘Kui’, atau paling tidak pernah mendengar namanya.” Tanya Elang.

Aku diam berpikir, berusaha mengingat nama yang disebut Elang. Tapi karena merasa belum pernah mendengarnya, akupun meggelengkan kepala.

“Ok, mungkin kamu belum tahu tentang dirinya. Bagaiman dengan ‘Xin’ dan ‘Mow’, kamu pasti mengenalnya kan. Mereka adalah satu kelompok, atau paling tidak saling mengenal.” Kata Elang, menjelaskan.

“Eh, benarkah. Tapi kenapa selama ini aku belum pernah mendengar namanya ?” Ujarku terkejut mendengar hal itu.

“Tidak aneh kalau kamu belum pernah mendengarnya Vin. Dia merupakan orang yang paling misterius diantara tiga orang itu. Selain itu dia juga lebih sering berpindah tempat dari pada yang lain. Saya menduga dia adalah koordinator anggota mereka yang berada didaerah.” Elang menjelaskan panjang lebar.

“Mengapa kau tidak datang ke sarang mereka untuk menangkapnya ?” Tanyaku.

“Tidak semudah itu Vin, selain kami belum mempunyai bukti. Juga tidak tahu dimana markas mereka.”

“Bagaimana dengan Sony Danubrata, bukankah kalian bisa menangkapnya.”

“Dengan tuduhan apa kita menangkap Sony ? Kamu salah jika menganggap Sony adalah bos mereka. Dia hanya salah satu dari mereka, masih ada orang yang bediri dibelakangnya dan mengendalikan semua tindakan Sony. Mungkin tugas Sony adalah menutupi bisnis ilegal mereka dengan bisnis legal yang dipegang Sony. Money laundry istilahnya.”

“Terus apa hubungannya semua itu denganku” kataku masih penasaran.

“Aku tahu dari Pak Bram kamu sedang berusaha mencari pembunuh pamanmu. Dan tampaknya target kita sama, Mengapa kita tidak bekerja sama untuk menangkap mereka. Bukankah dua orang lebih kuat daripada satu orang, siapa tahu dengan bekerja sama kita bisa menangkap mereka.”

Setelah berhenti sejenak, Elang melajutkan ucapannya. “Mereka adalah orang-orang yang kejam, mereka dengan mudahnya bisa menghilangkan nyawa seseorang. Bahkan anggota sendiri bila melakukan kesalahan akan menerima hukuman. Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa mereka masih membiarkanmu hidup. Padahal jelas-jelas kamu sudah mengganggu mereka. Mungkin baru peristiwa terakhir ini bisa dikecualikan. Sepertinya mereka sekarang sudah mengincar jiwamu. Dan percayalah padaku, mereka tidak akan berhenti sebelum berhasil mencapai tujuannya.”

“Jadi menurutmu mereka pasti akan menyerangku lagi, dan salah satu tujuanmu disini adalah untuk menunggu mereka ?”

“Ya. benar seperti itu. Aku yakin akan hal itu. Walau tidak dalam satu atau dua hari, mereka pasti akan melakukannya. Untuk itu aku memintamu untuk bekerja sama.” katanya smbil mengulurkan tangannya kedepan untuk meminta kesedianku.

Setelah berpikir sejenak, aku mengulurkan tangan menerima jabatan tangannya. Sebagai tanga persetujuan untuk menerima kerja sama ini. ” Ok Lang, aku terima kerja sama ini.” Setelah itu kami berbincang-bincang tentag hal umum lainnya.

Tiba-tiba Elang berkata “Vin bagaimana kalau kita saling bercerita tentang ruwayat hidup kita dari kecil sampai sekarang.”

“Boleh juga, tapi kamu yang bercerita dulu ya. bukankah kamu sudah tahu sedikit banyak tentangku dari Ayah dan Ibu. Waktu mereka disini” kataku.

“Baiklah, sebenarnya riwayat hidupku tidak menarik. Tapi karena kita sudah seperti saudara, akan kuceritakan riwayat hidupku untukmu.

@@@@@

Elang Side’s Story : It’s My Life

Namaku Elang Mahija, tapi orang-orang cukup memanggilku Elang. Usiaku saat ini 25 tahun. Jangan tanyakan nama orang tuaku, karena aku sendiri tidak tahu. Sejak kecil aku hidup di panti asuhan. Sama seperti kehidupan anak lainnya, ada senang dan susahnya. Tapi tentu saja karena kami hidup di panti, jadi cara hidup kami tidak seperti anak-anak biasa. Kami hidup lebih mandiri.

Tentang cita-cita dan rencana hidupku hampir seperti anak lainnya. Ingin kuliah , kemudian bekerja. Tapi rencana itu berubah seketika, saat satu kejadian yang menyedihkan itu terjadi. Andi, temanku sejak kecil. Kami sama-sama tumbuh dipanti, kami selalu berdua. Hingga berpisah selamanya, karena dia over dosis obat-obatan.

Hal yang tidak masuk diakal, karena aku mengenalnya luar dalam. Aku lalu berusaha mencari tahu kebenarannya. Dan akhirnya kuketahui penyebabnya. Andi dipaksa memakai barang itu oleh salah seorang teman kami. Dan dia adalah pengedar disekolah kami. Saat aku berusaha mengungkap hal itu, aku dihajar habis-habisan hingga nyawaku hampir malayang. Untung saat itu aku ditolong seseorang. Hingga akhirnya kuketahui bahwa orang itu seorang polisi yang sedang menyamar untuk menyelidiki kasus pengedaran narkoba disekolah-sekolah.

Kawanan itu berhasil ditangkap oleh orang itu. Tapi demi nama baik sekolah, berita itu tidak tersiar keluar sekolah. Karena peristiwa itulah, maka aku memutuskan untuk menjadi seorang anggota kepolisian. Agar tidak ada lagi Andi-Andi lainnya yang menjadi korban narkoba. Aku tidak pernah bertemu lagi dengan orang yang dulu pernah menyelamatkanku. Tapi aku tahu namanya ‘Gian’.

-=+=-

Aku masih berbaring diranjang itu, ranjang yang sama seperti semalam. Sambil membayangkan kejadian semalam. Apakah ini mimpi atau kenyataan. Perempuan anggun yang terhormat dan terlihat lembut tapi ternyata sangat ganas dan liar di atas tempat tidur. Berbagai posisi bercinta telah kami lakukan semalam.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka membuyarkan lamunanku dan masuklah seorang wanita dengan pakaian lengkap dengan jilbab rapat menutup rambutnya membawa nampan berisi roti dan minuman. Dipta namanya, seorang wanita yang menyandang istri ketiga dari seorang pejabat tinggi. “Sudah bangun Lang, bagaimana tidurnya. nyenyak” katanya sambil tersenyum dan duduk ditepi ranjang. “Ayo makan dulu, nanti kta lanjut lagi” katanya sambil tersenyum menggoda. Disodorkannya gelas yang berisi susu yang dicampur telur dan madu kepadaku. Dipta juga memberikan setangkap roti bakar, yang terasa sangat nikmat bagi perutku yang lapar.

“Mau kemana Ta, kok sudah rapi” tanyaku. Menyelesaikan beberapa urusan. Biar kita bisa bersenang-senang sepanjang hari” kata Dipta kembali tersenyum nakal. Aku merasa senang mendengarnya, nafsuku yang semalam terasa bangkit kembali melihatnya, walau Dipta masih berpakaian lengkap. “Ta, kamu terlihat berbeda sekali saat memakai pakaian seperti itu. Kamu benar-benar pantas jadi ibu pejabat, Aku jadi takut mendekatimu, takut diburu anak buah suamimu” kataku, sambil pura-pura memalingkan wajahku dari hadapannya. “Dasar bad boy, pura-pura takut. Tapi istri atasan di sikat juga. Tapi salahnya juga, ngapain punya istri banyak bila tidak bisa memuaskan istrinya. Aku kan juga manusia biasa pengen kehangatan, pengen kenikmatan” jawabnya sambil menggelendot manja pada leherku.

Dia bangkit berdiri dan kemudian bersiap melepas pakaiannya. “Ta… jangan dilepas dulu. Ta mau ngga bergaya seperti penari striptease, membuka satu-persatu bajumu didepanku ?”. “Apa sih yang tidak buatmu” jawab Dipta. Dipta kemudian bangkit dan dengan senyum menggoda dia mulai bergaya seperti penari erotis. Mengerakkan tangannya juga pinggulnya. Sambil berputar berusaha melepas jilbabnya.

“Jilbabnya jangan dilepas dulu Ta” kataku. Aku memperhatikan gerakannya sambil berbaring menyender di ranjang. Mataku benar-benar takjub menyaksikan gaya dan aktrasinya. Dengan masih bergoyang, Dipta mulai membuka kancing bajunya sehingga mencuatlah buah dada montoknya yang terbungkus Bra warna putih. Sambil terus menggoyangkan pinggulnya meluncurlah celana panjang yang dipakainya, hingga kini Dipta hanya mengenakan jilbab, Bra dan Celana dalam yang juga berwarna putih. Dalam keadaan setengah bugil itu goyangan Dipta semakin seronok dan menggoda. Kedua tangannya meremasi buah dadanya sendiri sambil pinggulnya bergoyang maju-mundur. Aku benar-benar terpesona memandangnya dimana didepan mataku seorang wanita berjilbab menari erotis hanya menggunakan Bra dan celana dalam. Menyaksikan tubuh bugil itu bergerak dengan erotisnya, perlahan batang penisku mulai tegang dan mengeras.

Dipta naik keatas ranjang. Tariannya kini semakin liar. Disorongkannya pangkal pahanya ke muka ku sambil menurunkan celana dalamnya sedikit, memperlihatkan bulu pubisnya. Kutanggapi aksinya dengan meraba paha Dipta dan membelainya. Kini selangkangannya tepat berada dimukaku. Dengan cepat kutarik kebawah celana dalam putihnya dan langsung kujilati rimbunan rambut menghitam yang dibaliknya terdapat lembah yang nikmat. Dia mengangkangkan kedua kakinya sambil sedikit menekuk lututnya. Tangannya memegang tembok.
Pinggulnya kini bergerak perlahan mengimbangi jilatan lidahku pada selangkangannya.

Dengan mulut dan lidah kujelajahi daerah kemaluannya dengan rakus. Dia pun mendesah nikmat diperlakukan seperti itu, satu tangannya kini meremasi buah dadanya yang telah terbuka. Dengan ujung lidah kujilati lubang vaginanya, kukuakkan lubang itu dengan jariku. Dan dengan penuh nafsu belahan lembut itu tidak hanya kujilat tapi juga kuhisap. Sangat eksotis sekali melihat pemandangan ini, seorang wanita yang sedang dalam keadaan terangsang berat dan kedua tangannya meremas buah dadanya sendiri.

Dipta merintih nikmat, saat satu jari tengahku kumasukkan kedalam lubang vaginanya yang semakin basah. Kugerakkan jariku keluar masuk di lubang vaginanya, dengan sesekali kukorek liang vaginanya seperti mencari sesuatu. Ditambah lidahku yang masih terus menjilati klitoris perempuan itu. Aksiku menyebabkan Dipta semakin menggelinjang liar. Dia semakin keras dan liar meremasi buah dadanya. Tubuhnya bergetar hebat menerima sentuhan pada lubang vaginanya. Kakinya tampaknya tidak cukup kuat menyangga tubuhnya, hingga diapun jatuh terduduk. Jariku masih tertancap dilubang vaginanya. Dipta membaringkan tubuhnya kebelakang sedangkan pinggulnya diangkat keatas sehingga posisinya melengkung seperti busur panah. Kemaluannya mendongak keatas disangga kedua kakinya yang terbuka. Hingga kini mulutku dapat merambahi lembah berbulu itu dengan bebasnya.

Entah kenapa, seputar vaginanya seperti punya daya tarik tersendiri. Selain berbau harum juga sangat indah bila dipandang, Hingga tanpa rasa bosan terus kujilati. Dan tentu dia juga sangat menyukai perlakuanku itu, sesuatu yang telah didambakannya selama ini. Seperti yang diucapkannya saat kami memulai perselingkuhan ini beberapa bulan yang lalu. Setelah beberapa lama, rupanya dia ingin segera disodok lubang vaginanya dengan batang penisku yang telah keras berdiri. Diturunkan tubuhnya dan mengarahkan selangkangannya kebatang penisku yang telah mengacung keatas. Aku membantunya dengan mengarahkan batang penisku kelubang yang telah basah merekah itu. Dipta mendesah ketika kepala penisku perlahan menyusup masuk kedalam lubang vaginanya yang sempit.

Lubang vaginanya masih terasa sempit dan peret, karena selain jarang dimasuki batang penis lelaki. Itu juga hasil dari rutinnya ia minum jamu. Sehingga selain lebih rapet juga vaginanya berbau harum. Kurasakan sentuhan batang penisku didalam lubang vaginanya yang kering tapi lembut. Sehingga sentuhan kepala penisku yang sensitif pada dinding liang vaginanya menjadi lebih nikmat. Dipta mulai menggerakkan tubuhnya naik turun perlahan dan semakin cepat diselingi hentakan-hentakan yang liar. Posisiku yang duduk menyandar di sandaran tempat tidur hanya bisa sedikit mengimbangi gerakannya yang semakin cepat. Tanganku kutaruh dipinggul montok perempuan itu, mengikuti gerakan naik turun tubuhnya.

Sepasang buah dadanya yang montok terguncang-guncang menggesek mukaku. Sesekali dia menghempaskan pingulnya kebawah sehingga batang penisku menghujam seluruhnya kedalam lubang vaginanya. Dan itu sepertinya mendatangkan nikmat yang sangat baginya ketika kepala penisku menghujam lubang vaginanya yang terdalam dan yang paling sensitif. Dipta terus mehentakkan pinggulnya semakin cepat dan keras, dan tanpa bisa dicegah tubuhnya mengejang ketika dia mencapai puncaknya. Kurasakan batang penisku seperti disiram suatu cairan.

“Achhh… !!!” jeritnya keras saat dia merasakan puncak kenikmatannya. Tubuhnya mendekap tubuhku dengan ketat. Aku yang belum mencapai puncaknya kemudian mendorong tubuh Dipta kebelakang hingga terlentang dengan tubuhku kini berada diatasnya. Batang penisku masih bertaut didalam lubang vaginanya. Segera kugerakkan pinggulku naik turun melanjutkan gerakan yang dibuat Dipta. Gerakanku langsung ku percepat karena aku ingin membuatnya merasakan orgasme dua kali berturut-turut, seperti yang selalu kulakukan untuk wanita yang bercinta denganku. Kali ini aku ingin mencoba membuat hatrick, yaitu membuat Dipta klimaks tiga kali berturut-turut.

Saat ini Aku merasa mampu untuk hal itu, karena tubuhku masih segar dan batang penisku masih masih sangat keras dan belum kurasakan untuk klimaks. Dan ternyata firasatku benar. Saat kuhentakkan batang penisku sedemikian rupa klimaks Dipta yang belum surut, kembali berkobar semakin tinggi. Dia mencoba mengimbangi goyangan pinggulku, tapi ternyata hanya sebentar ketika orgasme yang kedua kali melandanya. “Oooh Lang …!ahhh…ohhh…” jeritnya nikmat.

Aku terus menggerakkan pinggulku tanpa perduli, kuingin memberikan yang terbaik untuk wanita ini. Aku kembali berusaha memacu hasrat Dipta yang baru saja mencapai klimaks keduanya, dan tak lebih dari tiga menit kembali tubuhnya terguncang oleh getaran yang paling nikmat. “Aaaarrggghh…!” desahnya kembali. Mungkin baru pertama kali dalam hidupnya dia merasakan orgasme tiga kali berturut-turut. Sehingga tubuhnya merasa melayang kelangit kenikmatan ketujuh.

Aku yang masih merasa segar belum menghentikan goyanganku, bahkan semakin kupercepat saat aku mulai merasakan nikmat pada batang penisku. Dipta yang telah KO tiga kali hanya bisa telentang pasrah, mungkin merasakan seluruh persendiannya lemas. Tapi tiba-tiba dia bangkit dan berkata “Lang, aku mau kulum punya kamu” pintanya kembali bersemangat.
Mendengar permintaannya itu akupun menghentikan goyanganku, Aku merasa rupanya dia sedang kehausan dan ingin minum. Minum air maniku.

Aku juga merasa senang, karena ada variasi lain dalam menikmati permainan ini. Permainan mulutnya sungguh luar biasa, entah sudah berapa kali aku menumpahkan air maniku didalam mulut wanita ini. Aku cabut batang penisku dari dalam lubang kenikmatannya. Dipta mengatur posisi. Kepalanya dia ganjal dengan bantal, sehingga tubuhnya menjadi setengah berbaring. Aku segera berlutut mengangkangi badannya dengan batang penisku mengacung tepat kemuka Dipta, tanpa menunggu lama dia langsung menyambar dan mengulumnya dengan ganas.

Kini tampak pemandangan yang penuh sensasi. Tampak seorang wanita terbaring telanjang bulat didepanku hanya dengan mengenakan jilbab, suatu paduan yang bertolak belakang apalagi mulut wanita ini membuka siap menerima batang penisku yang keras dan basah dengan lendir vaginanya. Aku menjadi semakin bernafsu, darahku seakan semakin terbakar melihat dan merasakan bibir wanita didepanku ini melahap dan mengulum batang penisku yang sedang tegang dan keras, dan sangat kunikmati sentuhannya. Kubiarkan dia memperlakukan penisku dengan semaunya.

Dipta dengan penuh nafsu mengulum dan menjilatinya. Cara perlakuannya semakin pintar dan terampil, hingga nikmat yang kurasakan semakin tinggi. Beberapa wanita yang kukencani sangat jarang mau mengulum batang penisku, apa lagi menelan air mani. Yang mau melakukan hal itu biasanya perempuan bayaran. Tapi kini perempuan baik-baik, seorang istri yang kesepian dengan rakus melakukannya. Aku merasa sangat beruntung bisa bertemu kembali dengan Dipta. Tidak terpikirkan bagaimana reaksi Pak Djoko bila tahu perbuatan kami. Aku merasa batang penisku semakin sensitif dikulum dan dilumati mulut Dipta yang semakin rakus. Dan tanpa dapat kutahan lagi muncratlah cairan kenikmatan hangat dari batang penisku, yang segera dilahap dengan nikmat oleh Dipta. Batang penisku dikulum hingga hampir sepenuhnya masuk kedalam mulutnya, sehingga airmani yang tercurah langsung masuk ketenggorokannya dan tertelan.

Kurasakan tubuhku meregang tersentak seiring dengan curahan cairan kenikmatanku yang dengan rakus ditelan olehnya. Dipta bahkan juga menjilati cairan yang meleleh dibatang penisku hingga tuntas dan bersih mengkilap. Dan tuntas juga ronde pertama kami dipagi ini, kami kemudian berbaring kelelahan dengan tubuh saling mendekap. Tak sampai sepuluh menit kami saling berdekapan, ketika kurasakan batang penisku yang masih cukup keras mulai dirabai dan diremas kembali oleh tangan Dipta. Rupanya dia sudah ingin lagi.

Kami kembali berciuman dengan buas. Tapi tidak lama karena Dipta mendorong kepalaku kebawah. Dia ingin aku memainkan buah dadanya. Kurasakan betapa lembutnya sepasang bukit kembar yang montok berisi dan belum pernah menyusui satu orang anak pun. Dipta mendesah sambil meremas rambutku, sementara aku mulai menjilati dan menghisapi salah satu puting buah dadanya. Sedangkan yang satu kuremas lembut dengan tanganku. Kurasakan buah dadanya yang lembut dan perlahan terasa semakin menegang dengan puting yang mengeras.

“Ohhh Lang ! Terushhh … Lang…” Tanganku yang satu mulai merambahi kembali selangkangannya. Dipta menyambut tanganku dengan merenggangkan kedua kakinya. “Ahhh…terus Lang…!” desisnya ketika jariku mulai menyentuh kemaluannya. Jari tanganku dengan perlahan menyusuri lembah berbulu dimana didalamnya terdapat bibir lembut yang lembab. Dipta semakin menggelinjang ketika ujung jariku menyentuh klitorisnya. Kini mulut dan tanganku secara bersamaan memberikan rangsangan kepada wanita kesepian yang haus seks ini. Sementara dia juga tampak sangat menikmati jilatan dan rabaanku.

Beberapa lama kemudian setelah puas merambahi sepasang bukit ranum itu, perlahan mulutku mulai bergerak kebawah menyusuri perut mulusnya dan berhenti di pusarnya. Dipta menggelinjang ketika pusarnya kujilat dengan lidahku. “Ohhh! Lang, lakukanlah” desahnya mulai tak tahan menahan hasratnya. Aku segera menghentikan jilatanku dan mengatur posisi. Dipta telentang pasrah dengan kedua paha terbuka lebar menantikan hujaman batang penisku pada lubang vaginanya yang telah semakin berdenyut. Dipta sedikit tersentak ketika batang penisku menyentuh bibir vaginanya. Direngkuhnya tubuhku ketika perlahan batang penisku yang keras mulai menyusuri lubang vaginanya.

“Akhhh…! enak Lang…!” desisnya. Tangannya menekan pinggulku agar batang penisku masuk seluruhnya. Aku juga merasakan nikmat. Vagina Dipta masih sempit dan seret mungkin karena belum pernah melahirkan. Aku mulai menggerakkan pinggulku perlahan naik-turun dan terus kupercepat diimbangi dengan gerakan pinggulnya. Kami terus berpacu menggapai nikmat. “Ayo Lang, goyang terusss!” desis Dipta makin hilang kendali karena merasakan nikmat akibat aktifitas kami.
Kugerakkan pinggulku semakin cepat dan keras. Sesekali kusentakkan kedepan sehingga batang penisku tuntas masuk seluruhnya kedalam vaginanya. “Ohhh… Lang !” jeritnya, setiap kali Aku melakukannya. Terasa batang penisku menyodok dasar lubang vaginanya yang terdalam. Semakin sering kulakukan, semakin bertambah keras jerit kenikmatan yang dikeluarkannya. Hingga pada hentakan yang kesekian kalinya kurasakan otot diseluruh tubuh Dipta meregang. Dengan tangannya pantatku ditekannya agar hujaman bantang penisku semakin dalam.
Dan kini terasa ada yang berdenyut didalam lubang vaginanya. “Akhhh… Auuuh akhhh…!” teriaknya tertahan merasakan orgasmenya untuk kesekian kali. Seluruh tubuhnya bergetar seperti dialiri listrik berkekuatan rendah yang membuatnya berdesir. Aku yang belum mencapai puncak terus menggerakkan pinggulku semakin cepat. Membuat Dipta kembali berusaha mengimbangi gerakanku. Dia mengangkat kedua kakinya keatas dan dipegang dengan kedua tangannya, sehingga pinggulnya sedikit terangkat membuat vaginanya semakin mencuat. Menyebabkan hujaman penisku semakin dalam. Aku yang sedang berusaha untuk mencapai puncak kenikmatan, kurasakan lebih nikmat dengan posisi Dipta yang seperti itu.

Demikian juga yang tampaknya dirasakan Dipta, puncak kenikmatannya yang belum turun menjadi naik lagi. Dia mengangkat dan menumpangkan kedua kakinya pada pundakku, sehingga selangkangannya lebih terangkat. Kupeluk kedua kakinya, hingga posisi tubuhku menjadi setengah berdiri. Kurasakan jepitan vaginanya menjadi lebih terasa sehingga gesekan batang penisku menjadi semakin nikmat. Kuhentakkan pinggulku makin cepat dan keras, ketika kurasakan puncak kenikmatan itu sudah semakin dekat kurasakan.

“Ahhh…shhh…aaah” Aku mendesah nikmat ketika cairan kenikmatan itu menyembur dari batang penisku. Aku terus mengocok batang penisku untuk menuntaskan hasratku. Bersamaan dengan itu rupanya Dipta juga merasakan kenikmatan yang kedua kalinya. “Akhhh…!” jeritnya untuk kedua kali merasakan orgasme secara berturut-turut. Tubuhku ambruk diatas tubuhnya. Kami saling berpelukan sementara Kemaluan kami masih bertautan.
Keringat mengucur deras dari tubuh kami berdua, bersatu. Nafas kami saling memburu. Tuntas sudah hasrat kami. Dua tubuh yang panas berkeringat terus berdekapan menambah suasana hari yang makin memanas. Kami saling melepas pelukan dan berbaring kembali diatas ranjang.

Entah berapa lama kami sama-sama berbaring terdiam, saat tiba-tiba bunyi telepon menyadarkan kami. “Kriiing… kriiing…” Suara dari ponselku.

Segera kuangkat begitu kulihat nomer yang ada dilayar. “Ya, ada apa man ?”

“Hari ini Jam 2, mereka akan kesana” kata suara yang ada ditelepon,

“Ok, matur suwun Man” jawabku, setelah itu aku segera menutup teleponnya. “Tugas lagi ?” tanya Dipta, sambil memandang kearahku.

Aku hanya menganggukan kepala sebagai jawabannya. Kemudian aku segera menuju kamar mandi. Setelah selesai aku segera kembali kekamar, tidak kulihat Dipta diranjang. Saat aku sudah selesai berpakaian, dia masuk dengan membawa sebuah kunci dan menyerahkannya padaku.

Aku yang tidak mengerti maksudnya hanya diam saja. “Ambil dan pakailah mobilku” ucapnya.

“Apa maksudmu Ta ? Jangan memandangku serendah itu, kamu pikir aku meminta imbalan untuk semua ini” kataku dengan nada keras.

“Sudahlah Lang, jangan berpikir macam-macam. Aku tahu kamu sedang butuh kendaraan. Kamu sedang dilarang membawa kendaraan dinas karena beberapa kali kamu kamu menghancurkan mobil dinas kan ? Bawalah, kalau kamu tidak mau menerima pemberian ini. Anggap saja kamu meminjam dariku. Kalau bicara soal harga, Sebenarnya harga mobil ini pun belum sepadan untuk membayar hutang budiku kepadamu.”

Mendengar alasannya itu akupun menerima kunci itu dari tangannya. “terima kasih Ta, nanti aku kembalikan kalau tugasku sudah selesai” ucapku.
Setelah itu beberapa saat kami berbicara.
-=+=-

Aku segera meninggalkan tempat itu saat waktu menunjukan pukul setengah dua siang. Dengan Mobil CRV itu aku segera menuju salah satu Universitas di kota bengawan ini. Bukan Universitas itu yang kutuju, tapi belakang tempat itu. Aku segera turun dari mobil saat sampai ditujuan.

Orang yang melihat penampilanku mungkin akan berpikir macam-macam. Jean belel, kaus tanpa lengan hingga menampakkan tato pada kedua lenganku, topi kupluk dan kaca mata hitam. Aku tidak menghiraukan pandangan mereka. Aku terus berjalan melewati tanah kosong dan saat sampai disatu pohon besar aku berhenti. Kemudian aku berdiri bersandar dipohon itu menunggu jam dua yang kurang berapa menit lagi.

Tidak lama kemudian seseorang datang menghampiriku. Dan

Author: 

Related Posts

  • Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/medina-u-get-back-to-me-asap-03-326dtxr0fyta6ubobgblze.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/medina-u-get-back-to-me-asap-03-326dtxr0fyta6ubobgblze.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/medina-u-get-back-to-me-asap-03-326dtxr0fyta6ubobgblze.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/image-blank-33tpelh41i14bjb4m3szyi.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Ngentot memek perawan anak angkat
  • Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/Cewek-Ngentot-sambil-di-ikat-8-300x400-325g9bf02ygvjudow37pje.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/Cewek-Ngentot-sambil-di-ikat-12-300x225-325g98wj93t3yvg96rilfu.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/Cewek-Ngentot-sambil-di-ikat-12-300x225-325g98wj93t3yvg96rilfu.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/image-blank-33tpelh41i14bjb4m3szyi.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Pembantu cantik diiket dan dikentot
  • Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/tumblr_nwel2kDeHg1uao8ooo1_540-300x300-30pfkzsm7ws3yypm21fksq.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/image-blank-33tpelh41i14bjb4m3szyi.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Cerita Panas kesepian selama ditinggal suami
  • Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/multixnxx-Milf-Black-hair-Asian-Anal-Close-up-on-14-30nutg57089632kmylzhfu.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/multixnxx-Milf-Black-hair-Asian-Anal-Close-up-on-14-30nutg57089632kmylzhfu.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/multixnxx-Milf-Black-hair-Asian-Anal-Close-up-on-14-300x300-30nutg57089632kmylzhfu.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Warning: imagejpeg(): Unable to open '/var/www/server1011/fotomesum.net/wp-content/uploads/ktz/image-blank-33tpelh41i14bjb4m3szyi.jpg' for writing: Permission denied in /var/www/server1011/fotomesum.net/wp-includes/class-wp-image-editor.php on line 420Cerita Panas Rumble X Riot! – Part 18

Comments are closed.